Memaknai Manusia
Manusia memiliki fitrah untuk
berfikir. Dalam sejarah panjang kehidupan manusia kita bisa lihat bersama bahwa
manusia hidup untuk saling melengkapi satu sama lain. Dengan sifat nalurinya ia
memiliki sifat khusus yang membedakan dengan makhluk lainnya. Naluri yang bisa
kita indra ialah naluri untuk beragama, untuk berkasih sayang dan
mempertahankan diri. Baik kita akan bahas satu persatu.
1. Naluri
Beragama
Naluri ini merupakan pensucian
manusia terhadap sesuatu yang dianggap lebih dari apapun. Menjadikannnya
sebagai dasar yang kokoh, segala seusatu membutuhkan dasar, sesuatu tanpa dasar
pasti akan hancur. Naluri ini merupakan ciri dari manusia yang tak dapat hidup
sendiri, ini menandakan ada indikasi bahwa manusia mesti beragama, sekalipun ia
mengaku dirinya atheis tak mempercayai Tuhan. Kita sering mendengar mengenai
kisah bagaimana atheis memeluk islam, mungkin juga bagaimana prof. Dzakir Naik
bisa menyampaikan hidayah dengan penuh keyakinan kepada pemeluk-pemeluk agama lain.
Dalam surah Al-A’raf disebutkan yang artinya :
“Dan sesungguhnya, Kami jadikan untuk isi neraka jahannam itu kebanyakan
dari jin dan manusia, mereka punya qulub, tetapi tidak dipergunakannya untuk
memahami (ayat-ayat Allah) mereka mempunyai mata, tetapi tidak dipergunakannya
melihat (kebenaran dan kekuasaan Allah),dan mereka mempunya telinga tetapi
tidak dipergunakan untuk mendegar (ayat-ayat Allah) . mereka itu seperti
binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itu orang-orang yang
lalai.” (QS. al-A’raf:179)
Menurut ahli tafsir, Imam Ibnu
Katsir, memaknai ayat tadi dengan menyatakan Allah SWT. menyediakan neraka
jahannam bagi manusia yang melakukan perbuatan-perbuatan para penghuni
jahannam. Ini dikarenakan indra yang
dimiliki manusia tidak digunakan sebagaimana mestinya untuk mendatangkan
hidayah Allah. Mereka yang tidak mendengarkan kebenaran (islam), dan tidak
mengikuti petunjuk Allah berarti dianggap buta, tuli dan bisu. Nah hal demikian, bukanlah perkataan manusia yang asal bunyi.
Ini Allah Swt sendiri yang menegaskan dalam Al-Qur’an agar manusia berfikir
bahwasannya penciptaannya memiiki makna yang cukup mulia. Yaitu menyembahNya
semata.
2. Naluri
berkasih sayang
Sifat manusia yang selanjutnya
ialah berkasih sayang. Sifat ini menunjukkan bahwa manusia ingin meneruskan
generasinya agar tidak punah. Untuk itu, manusia harus memiliki cara yang tepat
untuk memenuhi naluri ini. Berkasih sayang atau saling mencintai satu sama lain
untuk menciptakan keharmonisan dan kedamaian. Islam telah mengajarkaan
bagaimana agar kita hidup dengan kasih sayang, tidak berzinah sebelum menikah
untuk melampiaskan hawa nafsu, jika sudah siap untuk melanjutkan kehidupan
selanjutnya ialah menikah. Kemudian tidak melakukan seks bebas seperti lesbian,
gay, biseksual dan transgender karena sifat ini adalah kecenderungan yang
salah. Allah sendiri menciptakn kita berpasang-pasangan agar kita merasa
tentram. Allah berfirman yang artinya :
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu
isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram
kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya
pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang
berfikir.” (TQS. ar-Rum:21)
Lihat bagaimana jika kita tidak
memiliki asas atau dasar, maka hidup kita tidak bermakna sama sekali. Ada rasa
kebimbangan untuk melakukan segala sesuatu, sama sekali tak bernilai dimata
siapapun. Untuk itu islam hadir agar kita senantiasa memahami fitrah kita
sebagai seorang menusia bahwa kita diciptakan untuk berkasih sayang agar tahu
maknanya. Betapa banyak orang mewujudkan kasih sayang itu dengan mengedepankan
nafsu. Aborsi, adalah salah satu efek sampingnya. Jadi memahami hakikat manusia
akan membuat kita lebih mengerti bahwa dunia ini sementara.
3. Naluri
mempertahankan diri
Sebagai manusia selalu
menginginkan sesuatu. Entah itu baju, tas, makan ditempat yang mahal atau
merasa sedih, bahagia dan marah. Ini adalah sifat alami manusia, yang apabila
tidak dipenuhi akan memperoleh kematian atau keresahan. Misalnya kita lapar
sekali, maka otak kita akan menstimulaan organ tubuh untuk mengambil makanan,
jika kita tidak memenuhi maka kita akan mati. Kemudian kita sangat berkeinginan
sekali membel tas mewah yang hrganya selangit, namun uang kita pas-pasan maka
hasrat untuk memiliki harus dipendam, jika kita tidak penuhi maka akan
menimbulkan keresahan. Nah jika pemenuhan ini tidak didasari keimanan, otomatis
segala cara kita lakukan untuk mendapatkannya. Mau tas bagus ya tinggal curi,
mau gadget canggih ya tinggal curi, mau makan enak ya tinggal curi, semua serba
‘mencuri’ karena tidak ada pengikat yang membuat kita tunduk pada aturan.
Sehigga kebutuhan yang enggak penting-penting amat mati matian dipenuhi. Naluri
ini berkaitan dengan kebutuhan yang memenuhi hidup kita. Sehingga perlu
adab-adab yang sesuai dengan asas yang kita miliki, agar kita bisa memakanai
bahwa setiap amal perbuatan yang kita jalani kelak akan dipertanggungjawabkan.
Ya inilah segilintir ilmu yang saya miliki untuk
dibagikan. Semoga bermanfaat bagi teman-teman yang membacanya. Setidaknya
menulis ini adalah bagian hidup saya untuk memaknainya. berikut tulisan saya copas dari guru-guru saya ust Ary Herawan " kita hidup Laksana pohon, meskipun
hidup tak memiliki buah dan bunga ia masih bisa menghasilkan oksigen untuk
sekitar lingkungann hidupnya. Kehidupan hakiki adalah kita bisa mengerti
maknanya, mungkin kita mengenal para selebriti seperti Michael Jackson, Marlyn
Monroe, Whitney Houstan serta sederet nama tenar lainnya. Dibalik ketenaran dan
kekayaannya, hidup mereka berujung pada depresi yang berat. Atau kalangan
pebisnis seperti Allen Stanford -pimpinan Stanford Financial-, Bjorgolfur –CEO
West Ham United FC, sekaligus orang terkaya di Islandia- serta Alberto Vilar
–Investor Amerika yang terkenal dermawan, hidup mereka berujung hukuman karena
tindakan kriminal yang dilakukan. Atau kalangan ilmuwan seperti Alan Turing
–bapak ilmu komputer modern-, Edwin Armstrong –penemu radio FM-, serta Hans
Berger –penemu EEG- serta masih banyak yang lainnya. Hidup mereka berujung pada
stress dan bunuh diri. Mereka adalah orang-orang yang tidak betah dengan
kesuksesannya. Sebuah bubble succes. Gelembung yang membesar tetapi sengaja
untuk dihancurkan". Untuk itu yuk mari maknai hidup dengan banyak belaajr tentang
islam, Insya Allah berkah umur.

Komentar
Posting Komentar